Analisis Manajemen Risiko K3
Laboratorium
Bagas Kembara Alam1, Iman Fathurrahman2,
Muhammad Aprizal3, Yudis Rafi Mukarom4
Unversitas Pendidikan
Indonesia
barabka11@gmail.com1,
imanfathurdoang@gmail.com2, muhammadaprizal860@gmail.com3,
yudisrafi13@gmail.com4
|
Abstract |
|
The Basic Electronics Laboratory at the Indonesian University of
Education can be said to be a high-risk place because of the frequent
practicums carried out and the high risk of being electrocuted by objects
related to electricity. The risks in the laboratory are many and varied,
including the risks of practicum costs, student productivity, quality and
implementation time. The risks that need to be given more attention are
occupational health and safety (K3) risks. With this risk management, it is
hoped that practicum accidents that occur can be reduced so that if a
practicum accident occurs, the impact of the accident will not have much
influence and hinder other work. In this research, K3 dangers will be
identified, K3 risk assessment, and how to control K3 risks in practicum
using a risk assessment method based on NHS Highland which is adopted from
AS/NZS 4360:2004 Risk Management. Risk analysis is carried out by identifying
risks by reviewing data, interviews and questionnaires. After identification,
the impact and frequency values are multiplied to get the risk level value
for each risk factor. Risk evaluation is the next thing to do and then handle
the risks so that they do not have a major impact on the project objectives.
From the results of the risk assessment, it was found that the greatest risk
was the potential risk of hands being scratched by cable cutting pliers with
a risk value index of 10.55. Keywords: Basic Electronics
Laboratory, Risk Management, Occupational Health and Safety (K3), NHS
Highland, AS/NZS 430:2004 Risk Management. |
|
Abstrak |
|
Laboratorium
Elektronika Dasar di Universitas Pendidikan Indonesia dapat dikatakan sebagai
tempat yang berisiko tinggi karena seringnya praktikum yang dilakukan dan
tingginya risiko tersetrum dengan benda-benda yang berhubungan dengan
listrik. Risiko pada laboratorium sangatlah banyak, diantaranya risiko biaya
praktikum, produktivitas mahasiswa, mutu, dan waktu pelaksanaan. Risiko yang
harus lebih diperhatikan adalah risiko kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
Dengan adanya manajemen risiko ini diharapkan kecelakaan praktikum yang
terjadi dapat dikurangi. Pada penelitian ini akan diidentifikasi bahaya K3,
penilaian risiko K3, serta bagaimana cara mengendalikan terhadap risiko K3
yang ada pada praktikum dengan metode penilaian risiko berdasarkan dari NHS
Highland yang diadopsi dari AS/NZS 4360:2004 Risk Management. Analisis risiko
dilakukan dengan melakukan identifikasi risiko dengan cara review data,
interview dan kuisioner. Setelah melakukan identifikasi, nilai dampak dan
frekuensi dikalikan untuk mendapatkan nilai tingkat risiko pada tiap faktor
risiko. Evaluasi risiko adalah hal selanjutnya dilakukan kemudian melakukan
penangan risiko agar tidak berpengaruh besar pada tujuan proyek. Dari hasil
penilaian risiko ditemukan risiko yang paling besar adalah potensi risiko tangan
tergores tang potong kabel dengan indeks nilai risiko sebesar 10,55. Kata kunci: Laboratorium Elektronika Dasar, Manajemen
Risiko, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), NHS Highland, AS/NZS 430:2004
Risk Management. |
Kemungkinan
terjadinya risiko pada kesehatan dan keselamatan kerja (K3) sangat berpengaruh
terhadap biaya, waktu dan mutu yang akan berdampak pada kelancaran pekerjaan
konstruksi (Anwar, Farida, &
Ismail, 2014);(Pangaribuan,
2018). Kesehatan dan keselamatan
kerja (K3) melekat pada tenaga kerja konstruksi, mulai dari manajer sampai
pembantu tukang (Fairyo & Wahyuningsih,
2018). Kedudukan tenaga kerja merupakan aset yang
perlu dilindungi agar dapat bekerja dengan baik dan produktif sampai dengan
tujuan proyek tercapai dengan baik (Riniwati, 2016). Dengan adanya manajemen risiko ini diharapkan
kecelakaan kerja yang terjadi dapat dikurangi (Wena, 2015), sehingga jika terjadi kecelakaan kerja maka
dampak dari kecelakaan tersebut tidak akan berpengaruh banyak dan menghambat
pekerjaan yang lainnya (Lubis, 2017).
Metode Penelitian
Di dalam analisis risiko
peneliti akan menentukan status dari risiko (risk event status). Status risiko
adalah hasil perkalian dari probabilitas (Probability) dengan dampak (Concequences).
Di dalam penelitian ini analisis risiko yang dilakukan berdasarkan NHS
Highland. Standar yang digunakan oleh NHS Highland dapat dilihat pada Tabel 2,
Tabel 3, dan Tabel 4.
Data Proyek
Tabel 1. Data umum Laboratorium
|
Laboratorium Name |
: Elektronika Industri |
|
Address |
: Universitas Pendidikan Indonesia,
Bandung |
|
Laboratory
Supervisor |
: Rizal |
Analisis Risiko
Di dalam analisis risiko peneliti akan
menentukan status dari risiko (risk event status). Status risiko adalah hasil
perkalian dari probabilitas (Probability) dengan dampak (Concequences). Di
dalam penelitian ini analisis risiko yang dilakukan berdasarkan NHS Highland.
Standar yang digunakan oleh NHS Highland dapat dilihat pada Tabel 2, Tabel 3,
dan Tabel 4.
Tabel 2. Tingkat Kemungkinan (AS/NZS 4360 : Risk Management, 2004)
|
Level |
Descriptor |
Uraian |
|
1 |
Very unlikely |
Memungkinkan tidak
pernah terjadi |
|
2 |
Unlikely |
Dapat terjadi, tapi jarang |
|
3 |
Possible |
Dapat terjadi pada kondisi tertentu |
|
4 |
Likely |
Dapat terjadi secara berkala |
|
5 |
Almost certain |
Dapat terjadi kapan saja |
Tabel 3.
Tingkat Keparahan dan Dampak (AS/NZS 4360 : Risk
Management, 2004)
|
Level |
Descriptor |
Uraian |
|
1 |
Very unlikely |
Tidak terjadi cedera, kerugian finansial kecil |
|
2 |
Unlikely |
Cedera rignan, kerugian finansial sedang |
|
3 |
Possible |
Cedera sedang, perlu penanganan
medis, keru- gian finansial besar |
|
4 |
Likely |
Cedera berat lebih dari
satu orang, kerugian be- sar, gangguan produksi |
|
5 |
Almost certain |
Fatal lebih dari satu orang,
kerugian sangat be- sar dan dampak luas yang berdampak panjang,
terhentinya seluruh kegiatan |
Tabel 4. Matrik
Risiko (AS/NZS 4360 : Risk Management, 2004)
Consequences
Probability ____________________________________________________________
1 2 3 4 5
|
|
(Insignifant) |
(Minor) |
(Moderate) |
(Major) |
(Catastrophic) |
|
1 (Very
Unlikely) |
LOW |
LOW |
LOW |
MEDIUM |
MEDIUM |
|
2 (Unlikely) |
LOW |
MEDIUM |
MEDIUM |
MEDIUM |
HIGH |
|
3 (Possible) |
LOW |
MEDIUM |
MEDIUM |
HIGH |
HIGH |
|
4 (Likely) |
MEDIUM |
MEDIUM |
HIGH |
HIGH |
VERY HIGH |
|
5 (Almost
Certain) |
MEDIUM |
HIGH |
HIGH |
VERY HIGH |
VERY HIGH |
Keterangan :
Low = 1-3
Medium = 4-9
High = 10-16
Very High = 20-25
Gambaran
Umum Responden
Responden yang kami pilih yakni berjumlah 23
responden, yakni dengan 22 mahasiswa Pendidikan Teknik Elektro angkatan 2023
dan 1 orang pengawas laboratorium. Dari 22 mahasiswa terdapat 4 lulusan SMA dan
18 lulusan SMK. Sedangkan 1 orang pengawas laboratorium lulusan S1 dan telah berpengalaman
bekerja sebagai pengawas selama 5 tahun.
Penilaian Risiko
Setelah
identifikasi risiko didapatkan selanjutnya yaitu melakukan penilaian risiko,
penilaian risiko diformulasikan dari probability
dikali concequences (Mochamad Firmansyah, 2023), hasil dari nilai tersebut digunakan
sebagai pengelompokan kategori
risiko berdasarkan matrix risk dari NHS Highland
(Maasily, Jamlaay, & Maelissa, 2023). Ranking risiko dapat dilihat pada Tabel 6 di bawah ini.
Tabel 6. Ranking risiko
|
No. |
Aktivitas/ Area |
Identifikasi Risiko |
Potensi Risiko |
Nilai |
Rank |
|
1 |
Menyambung kabel |
Tergesa-gesa |
Tangan tergores
tang potong kabel |
5,71 |
M |
|
2 |
Pengecekan rangkaian PCB Power Supply |
Kelalaian
mahasiswa |
Tersetrum |
3,33 |
M |
|
3 |
Menyolder PCB |
Kelalaian
mahasiswa |
Tangan
melepuh |
5.0 |
M |
|
4 |
Etching PCB |
Tidak menggunakan
sarung tangan |
Tangan gatal-gatal |
5,0 |
M |
|
5 |
Pemotongan PCB |
Tergesa-gesa |
Jari
terluka |
3,33 |
M |
|
6 |
Pelatihan
penggunaan APAR |
Tidak sesuai
prosedur |
Kerusakan
lingkungan |
3,33 |
M |
Sumber
referensi data tabel: Survey lapangan oleh penyusun
Pada Gambar 4 disimpulkan
bahwa potensi risiko yang sering muncul pada pekerjaan praktikum di
Laboratorium Elektronika Dasar, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung adalah
risiko tangan tergores tang potong kabel dengan jumlah item 6 yang telah
teridentifikasi.
Gambar 4. Potensi
risiko
Identifikasi Risiko
Dari data yang kami peroleh
berdasarkan kuesioner, kami jelaskan secara rinci sebagai berikut.
a.
22% risiko tergores
tang Kabel
Risiko
ini dapat terjadi saat mahasiswa belajar menyambungkan kabel. Menurut data
hasil survei kami risiko ini yang paling banyak terjadi karena tergesa-gesa
saat memotong kabel. Berikut ini diantara penyebab risiko ini dapat terjadi.
1) Tidak
berhati-hati saat belajar melakukan sesuatu yang baru, seringkali kita belum terbiasa
dengan teknik yang tepat atau belum memiliki keterampilan yang cukup. Tidak
berhati-hati atau kurangnya pengalaman dalam menangani kabel bisa membuat
tangan tersenggol atau tergores oleh ujung potongan kabel.
2) Tidak Menggunakan Alat Pelindung: Penggunaan alat
pelindung seperti sarung tangan saat menangani kabel bisa membantu mencegah
cedera (Akbar Maulana Firmansyah & Waluyo, 2024). Tanpa penggunaan
sarung tangan, tangan lebih rentan tergores oleh ujung potongan kabel yang
tajam.
3) Kondisi Kabel yang Tidak Terawat: Kabel yang telah
dipotong dan ujungnya tidak dihaluskan dengan baik dapat memiliki tepian yang
tajam atau berkas yang terurai, meningkatkan risiko goresan.
4) Kurangnya pengetahuan tentang Teknik yang Benar: Saat menyambungkan
kabel, teknik yang benar sangat penting untuk mengurangi risiko cedera (Rosiana & Fatkhurrokhman, 2023). Jika seseorang
tidak memahami teknik yang benar untuk menangani kabel, risiko cedera bisa
meningkat.
b. 13% risiko tersetrum
Risiko ini dapat terjadi saat
pengecekan rangkaian PCB bisa disebabkan oleh beberapa faktor termasuk:
1) Kontak Langsung dengan Komponen yang Terhubung dengan Sumber Listrik. Jika ada
kontak langsung antara bagian tubuh Anda dan bagian PCB yang terhubung dengan
sumber listrik, seperti kapasitor atau jalur listrik yang terbuka, Anda bisa
tersengat listrik.
2) Kondisi PCB yang Rusak. Jika
terjadi kerusakan pada PCB seperti terkelupasnya lapisan isolasi atau
terjadinya hubungan pendek, ini bisa menyebabkan arus listrik mengalir ke
tempat yang tidak seharusnya, termasuk tubuh Anda.
3) Kegagalan dalam Mengisolasi Sumber Listrik. Jika sumber
listrik tidak terisolasi dengan baik saat Anda melakukan pengecekan, risiko
tersengat bisa meningkat.
4) Kegagalan dalam Menggunakan Alat Pelindung. Kurangnya
penggunaan alat pelindung seperti sarung tangan yang tahan listrik atau alat
pengaman lainnya juga dapat meningkatkan risiko tersengat saat bekerja dengan
PCB.
5) Kegagalan dalam Mematikan Sumber Listrik: Jika Anda
tidak mematikan sumber listrik sebelum melakukan pengecekan, Anda berisiko
tersengat.
c. 19%
tangan melepuh
Risiko ini dapat terjadi saat terkena solder
karena
solder merupakan logam yang biasanya dilelehkan untuk mengikat atau
menghubungkan komponen elektronik pada PCB atau printed circuit board. Beberapa
faktor yang dapat menyebabkan melepuhnya tangan saat terkena solder termasuk:
1) Suhu yang Tinggi. Solder dilelehkan
pada suhu yang tinggi, biasanya sekitar 180°C hingga 190°C (356°F hingga
374°F). Paparan langsung tangan pada solder yang panas dapat menyebabkan kulit
terbakar dan melepuh.
2) Kontak Langsung dengan Solder Cair. Jika
tangan secara langsung terkena solder yang sedang dalam keadaan cair, misalnya
karena tumpahan solder atau saat melakukan proses soldering tanpa menggunakan
alat pelindung, kulit bisa langsung terkena efek panasnya dan melepuh.
3) Paparan yang Berkepanjangan. Jika tangan
terus-menerus terpapar asap atau uap dari solder, bahkan tanpa kontak langsung
dengan solder cair, hal ini juga bisa menyebabkan iritasi kulit atau bahkan
melepuh.
4) Ketidakhati-hatian saat Bekerja Ketidakhati-hatian
saat melakukan proses soldering, seperti memegang soldering iron (pembakar
solder) dengan tidak tepat atau menjaga jarak yang terlalu dekat antara tangan
dengan area kerja, dapat meningkatkan risiko terkena melepuh.
Risiko ini dapat
terjadi saat
proses etching PCB bisa disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk:
1) Kontak dengan Bahan Kimia. Proses
etching PCB melibatkan penggunaan bahan kimia seperti asam klorida atau larutan
besi klorida (Harahap, Rahmad, Yahya, & Harahap, 2023). Bahan kimia ini
dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan menyebabkan rasa gatal jika tangan
terkena langsung atau terpapar uapnya. Reaksi alergi terhadap bahan kimia
tertentu juga dapat menyebabkan gejala gatal-gatal.
2) Ketidaknyamanan saat Menggunakan Sarung Tangan (Puspariani, Kamaryati, Rahayuni, &
Kusuma, 2023). Jika Anda
menggunakan sarung tangan yang tidak cocok atau tidak tahan terhadap bahan
kimia yang digunakan dalam proses etching, kulit tangan masih bisa terkena
iritasi atau gatal-gatal akibat kontak dengan bahan kimia yang menembus sarung
tangan.
3) Paparan Debu Logam. Debu logam seperti
debu tembaga dapat terjadi saat proses etching PCB, terutama jika menggunakan
metode manual seperti penggunaan pisau etsa. Paparan debu logam ini dapat
menyebabkan iritasi kulit dan membuat tangan menjadi gatal .
4) Kondisi Kulit yang Sensitif. Orang yang
memiliki kulit sensitif cenderung lebih rentan terhadap iritasi dan gatal-gatal
akibat kontak dengan bahan kimia atau debu logam.
Risiko ini dapat terjadi saat memotong papan PCB karena beberapa
faktor, termasuk:
1) Pemotongan yang Tidak Hati-hati. Saat
memotong papan PCB menggunakan alat seperti gergaji PCB atau pemotong PCB, jika
tidak hati-hati atau tergesa-gesa, risiko jari tersayat meningkat. Papan PCB
memiliki tepi yang tajam, dan pemotongan yang kurang terkendali dapat menyebabkan
jari tersayat oleh tepi papan yang tajam.
2) Kekuranghati-hatian saat Menangani Alat. Penggunaan alat
pemotong PCB yang tajam memerlukan kehati-hatian ekstra. Jika alat tersebut
tidak digunakan dengan benar atau dipegang dengan kurang hati-hati, risiko
terluka meningkat.
3) Kondisi Papan PCB yang Tidak Stabil. Jika papan
PCB tidak stabil saat dipotong, misalnya karena tidak dipegang dengan kuat atau
tidak terkunci dengan baik, hal ini dapat meningkatkan risiko terluka karena
papan dapat bergerak secara tiba-tiba saat proses pemotongan.
4) Kurangnya Penggunaan Alat Pelindung. Penggunaan
alat pelindung seperti sarung tangan yang tahan goresan dapat membantu
melindungi jari dari cedera saat memotong papan PCB. Tanpa penggunaan alat
pelindung yang tepat, risiko terluka akan lebih tinggi.
5) Kurangnya Pengalaman. Kurangnya
pengalaman dalam menangani alat-alat dan proses pemotongan PCB dapat
menyebabkan ketidakmampuan dalam menghindari situasi berisiko yang dapat
menyebabkan cedera.
f. 13%
kerusakan lingkungan akibat salah penggunaan APAR
Hal ini dapat
terjadi karena beberapa faktor, termasuk:
1) Penggunaan Bahan Kimia yang Merusak Lingkungan. Beberapa
jenis APAR menggunakan bahan kimia yang dapat merusak lingkungan jika
dilepaskan ke lingkungan dalam jumlah besar. Misalnya, APAR yang menggunakan
bahan kimia seperti halon atau bahan kimia pemadam lainnya dapat merusak
lapisan ozon atau memiliki dampak negatif lainnya pada lingkungan.
2) Pencemaran Tanah dan Air. Jika bahan
kimia dari APAR mencemari tanah atau air setelah digunakan, hal ini dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan. Bahan kimia yang bocor ke tanah dapat
merusak kualitas tanah dan memengaruhi ekosistem lokal, sedangkan bahan kimia
yang mencemari air dapat membahayakan kehidupan akuatik dan sumber air yang digunakan
manusia.
3) Kerusakan pada Vegetasi dan Habitat. Beberapa
bahan kimia yang digunakan dalam APAR dapat merusak vegetasi dan habitat
alamiah. Misalnya, jika bahan kimia tersebut mencemari tanah di sekitar area
yang terkena kebakaran, dapat menyebabkan kerusakan pada tumbuhan dan
mikroorganisme tanah, serta mengganggu ekosistem yang ada.
4) Kerusakan pada Fauna. Penggunaan APAR
yang tidak tepat atau bahan kimia yang terlepas ke lingkungan dapat
membahayakan fauna, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahan kimia
yang masuk ke dalam rantai makanan atau langsung terpapar oleh hewan dapat
menyebabkan kematian atau gangguan kesehatan pada hewan liar.
5) Kerusakan Lanskap dan Ekosistem. Kerusakan
lingkungan akibat kesalahan dalam menggunakan APAR juga dapat menyebabkan
perubahan pada lanskap dan ekosistem setempat. Hal ini bisa termasuk kerusakan
pada struktur tanah, perubahan pola drainase, atau pergeseran populasi
organisme dalam ekosistem.
1. Menekan probability dengan cara:
a.
Pastikan untuk selalu mengikuti prosedur
keselamatan yang benar saat bekerja dengan PCB, termasuk mematikan sumber
listrik, menggunakan alat pelindung yang sesuai, dan memeriksa kondisi PCB
sebelum melakukan pengecekan. Jika Anda tidak yakin, lebih baik meminta bantuan
profesional. Melakukan patroli K3 (penggunaan APD) pada tiap praktikum
secara rutin untuk mengawasi para
mahasiswa dan memberi tahu para mahasiswa pentingnya penggunaan APD saat sedang melakukan
praktikum.
b.
Untuk menghindari cedera saat belajar
menyambungkan kabel, penting untuk menggunakan alat pelindung seperti sarung
tangan, mempelajari teknik yang benar, dan memastikan kabel dalam kondisi yang
baik sebelum bekerja. Selalu berhati-hati dan fokus saat melakukan pekerjaan
tersebut. Jika merasa tidak yakin, lebih baik meminta bantuan dari seseorang
yang memiliki pengalaman dalam hal tersebut.
c.
Untuk mencegah melepuhnya tangan saat
bekerja dengan solder, pastikan untuk selalu menggunakan alat pelindung seperti
sarung tangan tahan panas, hindari kontak langsung dengan solder yang panas,
dan pastikan area kerja cukup ventilasi untuk mengurangi paparan terhadap uap
yang dihasilkan saat soldering. Selalu berhati-hati dan patuhi prosedur
keselamatan saat melakukan pekerjaan soldering.
d. Untuk mengurangi risiko gatal-gatal saat melakukan proses etching PCB,
Anda dapat melakukan beberapa langkah, antara lain: Gunakan sarung tangan yang
tahan terhadap bahan kimia dan sesuai dengan jenis bahan kimia yang digunakan;
Pastikan area kerja memiliki ventilasi yang baik untuk mengurangi paparan
terhadap uap bahan kimia; Hindari kontak langsung dengan bahan kimia dan debu
logam; Setelah selesai bekerja, bersihkan tangan dengan sabun dan air untuk menghilangkan
residu bahan kimia yang mungkin masih menempel pada kulit; Jika Anda memiliki
riwayat kulit sensitif atau alergi terhadap bahan kimia tertentu, pertimbangkan
untuk berkonsultasi dengan dokter atau menggunakan krim pelindung kulit sebelum
melakukan proses etching PCB.
e. Untuk
mencegah cedera saat memotong papan PCB, pastikan untuk menggunakan alat
pelindung yang sesuai, seperti sarung tangan tahan goresan, dan pastikan untuk
memahami dan mengikuti prosedur keselamatan yang tepat saat menggunakan alat pemotong
PCB. Selalu berhati-hati, fokus, dan tenang saat melakukan pekerjaan tersebut.
f.
Untuk menghindari penyemprotan
apar yang salah sasaran, penting untuk: Mendapatkan pelatihan yang memadai
dalam penggunaan apar pemadam api; Tetap tenang dan fokus saat menggunakan
apar, bahkan dalam situasi darurat; Memahami jenis apar yang tepat untuk jenis
kebakaran yang sedang terjadi; Memperhitungkan kondisi lingkungan seperti arah
angin saat menyemprotkan apar; Jika memungkinkan, meminta bantuan dari orang
yang terlatih atau petugas pemadam kebakaran.
2.
Menekan
Concequences dengan cara:
a.
Selalu menggunakan alat pelindung diri
(APD) dalam praktikum, seperti pada praktikum di ketinggian diwajibkaan menggunakan full body harness dan
penggunaan APD pada praktikum yang lainnya sesuai dengan kebutuhan (Poetra, 2021).
b.
Membuat
inovasi alat dan metode kerja yang membuat
mahasiswa merasa aman dan
nyaman (Bere, Mahmudi, & Sasmito, 2021).
c.
Memberi pelatihan kepada mahasiswa mengenai
metode-metode penggunaan alat praktikum dan metode-metode pelaksanaan praktikum (Simorangkir, 2015).
3. Hindari (avoid) risiko
dengan cara:
Mengganti alat-alat dan material
yang sudah tidak layak pakai, seperti pada praktikum bekisting, kayu-kayu yang sudah
keropos diganti dengan yang baru.
4. Pengalihan
risiko (risk transfer) dengan
cara:
Setiap mahasiswa di Laboratorium diawasi oleh pengawas yang
berkompeten.
Untuk kecelakaan yang terjadi dilakukan prosedur
penanganan seperti yang terdapat pada Gambar
5 prosedur ini memuat mengenai penanganan untuk kecelakaan luka ringan, luka berat, dan
meninggal dunia (Tamim & Ismail, 2020). Gambar 5. Prosedur penanganan (SHE PT. PP)
Kesimpulan
Kesimpulan
dari penelitian manajemen risiko kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pada praktikum bengkel dan laboratorium di Laboratorium
Elektronika Dasar Universitas Pendidikan Indonesia adalah:
1.
Dari hasil
observasi dan hasil wawancara dengan 1 pengawas laboratorium
dan 22 mahasiswa Teknik Elektro pada
praktikum di Laboratorium Elektronika Industri dan studi pustaka,
teridentifikasi 6 risiko pada Praktikum
Bengkel dan Laboratorium.
2.
Dari hasil identifikasi potensi risiko yang
sering muncul, yaitu tangan tergores tang kabel (22,0%).
3.
Diketahui semua risiko tergolong medium risk, karena
mahasiswa teknik elektro semester II mempelajari banyak tentang PCB. Oleh
karena itu, semua risiko yang berkaitan dengan PCB tidak terlalu tinggi dan
jarang terjadi.
4.
Dari 6 item risiko dapat dilakukan control risk kecelakaan praktik dengan 4
tahap pengendalian, yaitu:
a.
Menekan probability dengan cara mengikuti
prosedur keselamatan dengan baik dan benar.
b.
Menekan concequences
dengan cara melakukan penyediaan alat pengaman diri (APD) dan memberi pelatihan kepada pekerja mengenai
metode-metode penggunaan alat praktikum dan metode-metode pelaksanaan praktikum.
c.
Hindari, melakukan penghentian kegiatan
sampai adanya reduksi dari potensi risiko dan
mengganti alat-alat atau material yang sudah tidak layak pakai.
Daftar Pustaka
Anwar,
Fahmi Nurul, Farida, Ida, & Ismail, Agus. (2014). Analisis Manajemen Risiko
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada Pekerjaan Upper Structure Gedung
Bertingkat (Studi Kasus Proyek Skyland City–Jatinangor). Jurnal Konstruksi,
12(1).
Bere,
Stevania, Mahmudi, Ali, & Sasmito, Agung Panji. (2021). Rancang bangun alat
pembuka dan penutup tong sampah otomatis menggunakan sensor jarak berbasis
Arduino. JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika), 5(1), 357–363.
Fairyo,
Lidia Sarah, & Wahyuningsih, Anik Setyo. (2018). Kepatuhan pemakaian alat
pelindung diri pada pekerja proyek. HIGEIA (Journal Of Public Health
Research And Development), 2(1), 80–90.
Firmansyah,
Akbar Maulana, & Waluyo, Minto. (2024). Mengidentifikasi dan Menanggulangi
Risiko di PT. XYZ Menggunakan Metode Hirarc. Sammajiva: Jurnal Penelitian
Bisnis Dan Manajemen, 2(1), 13–29.
Firmansyah,
Mochamad. (2023). Analisis Risiko Pada Pekerjaan Peledakan Berdasarkan Sudut
Pandang Kontraktor dan Masyarakat/sosial. Universitas Islam Indonesia.
Harahap,
Diannita, Rahmad, Zakirul, Yahya, Husnawati, & Harahap, Juliansyah. (2023).
Kemampuan Pseudomonas aeruginosa PAO1 dalam serapan logam besi (Fe) pada limbah
lindi di TPA Gampong Jawa Kota Banda Aceh. KENANGA: Journal of Biological
Sciences and Applied Biology, 3(1), 25–34.
Lubis,
Siti Maisarah. (2017). Manajemen Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
pada Proyek Konstruksi Gedung (Studi Kasus Pembangunan Apartemen Grand Jati
Junction). Universitas Sumatera Utara.
Maasily,
Nurhayati, Jamlaay, Octovianus, & Maelissa, Nelda. (2023). Analisis Risiko
Pada Proyek Pembangunan Gedung Laboratorium Terpadu Pendukung Blok Masela
Universitas Pattimura. Journal Agregate, 2(1), 67–75.
Pangaribuan,
Mekar Ria. (2018). Evaluasi Penyediaan Sistem Manajemen Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja (K3) Pada Perusahaan Jasa Konstruksi. Majalah Teknik Simes,
12(2), 43–50.
Poetra,
Ricky Perdana. (2021). Pengantar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
TOHAR MEDIA.
Puspariani,
Ni Komang Sri, Kamaryati, Ni Putu, Rahayuni, I. G. A. Rai, & Kusuma, Made
Dian Santi. (2023). Kepatuhan Tenaga Kesehatan dalam Penggunaan Sarung Tangan
Non Steril. Journal of Telenursing (JOTING), 5(2), 3549–3558.
Riniwati,
Harsuko. (2016). Manajemen sumberdaya manusia: Aktivitas utama dan
pengembangan SDM. Universitas Brawijaya Press.
Rosiana,
Enjel, & Fatkhurrokhman, Mohammad. (2023). Analisis Cara Kerja Fire Alarm
System di Gedung Nusantara I DPR RI. Jurnal Penelitian Rumpun Ilmu Teknik,
2(4), 11–26.
Simorangkir,
Saharnauli J. Verawaty. (2015). Metode pembelajaran peer assisted learning pada
praktikum anatomi. Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian
Journal of Medical Education, 4(2), 58–64.
Tamim,
Faisal, & Ismail, Agus. (2020). Analisis manajemen risiko dan pengendalian
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada pekerjaan power house. Jurnal
Konstruksi, 18(1), 1–10.
Wena,
Made. (2015). Manajemen risiko dalam proyek konstruksi. Jurnal Bangunan,
20(1–12).