Jurnal Teknik Indonesia
Volume 2 Nomor 7 Juli 2023
PERANCANGAN PUSAT KULINER DANAU TONDANO DI MINAHASA
Muhammad Gali Azari 1 , M.Y. Noorwahyu Budhyowati 2 , Ferrly Ferol Warouw 3
Universitas Negeri Manado
19211030@unima.ac.id
Abstract
Lake Tondano is of little interest because of the lack of attractiveness for visitors, starting from the lack
of recreation areas, parking lots, infrastructure and other supporting facilities. The research method used
refers to a detailed method and has a clear design flow so as to produce a result in the form of concepts
that will be displayed in the final design results later. Data Collection Techniques such as primary data,
secondary data, design parameters, analysis and concepts, design concepts. The results obtained are the
Design of the Danau Tondano Culinary Center in Minahasa which can answer the problems obtained
and provide facilities that are able to accommodate existing potentials as well as the results of the design
of the Lake Tondano culinary center which is unique and attractive with an approach from Neo-
Vernacular architecture The thesis with the title Center Design Lake Tondano Culinary in Minahasa
with a Neo-Vernacular Architecture theme approach, located in Indonesia, North Sulawesi, West
Tondano District, Minahasa Regency, Jl. Langowan-Tondano, Masarang. This design provides facilities
that are able to accommodate the needs of tourists. In this design a predictable result is that the Design
Results of the Lake Tondano Culinary Center can provide facilities that are able to accommodate existing
potential and the Design Results of the Unique Lake Tondano Culinary Center and apply the application
of Neo-Vernacular Architecture
Keywords : lake tondano, minahasa traditional culinary, neo-vernacular architectural approach.
Abstrak
Danau Tondano ini sedikit peminat karena kurang daya tarik pengunjung mulai dari kurang
tempat rekreasi, tempat parkir, infrastruktur dan fasilitas pendukung lainnya. Metode
penelitian yang digunakan mengacu pada metode yang terperinci serta memiliki alur
perancangan yang jelas sehingga mengahasilkan sebuah hasil berupa konsep-konsep yang
akan ditampilkan pada hasil akhir desain nantinya. Teknik Pengumpulan Data seperti data
primer, data sekunder, parameter desain, analisa dan konsep, konsep desain. Hasil yang
didapat yaitu Perancangan Pusat Kuliner Danau Tondano Di Minahasa yang dapat menjawab
permasalahan yang didapat serta menyediakan fasilitas-fasilitas yang mampu mewadahi
pontesi yang ada serta hasil rancangan pusat kuliner danau tondano yang khas dan menarik
dengan pendekatan dari arsitektur Neo-VernakularSkripsi dengan judul Perancangan Pusat
Kuliner Danau Tondano Di Minahasa dengan pendekatan tema Arsitektur Neo-Vernakular,
yang berlokasi di Indonesia, Sulawesi Utara, Kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa,
Jl. Langowan-Tondano, Masarang. Perancangan ini menyediakan fasilitas-fasilitas yang
mampu mewadahi keperluan wisatawan. Dalam perancangan ini hasil yang dapat
diprediksikan ialalah, Hasil Rancangan Pusat Kuliner Danau Tondano dapat menyediakan
fasilitas-fasilitas yang mampu mewadahi pontensi yang ada dan Hasil Rancangan Pusat
Kuliner Danau Tondano yang Khas dan menerapkan penerapan dari Arsitektur Neo-
Vernakular.
Kata Kunci: danau tondano, kuliner tradisional minahasa, pendekatan arsitektur neo-
vernakular.
9
Perancangan Pusat Kuliner Danau Tondano di Minahasa
Muhammad Gali Azari, M.Y. Noorwahyu Budhyowati, Ferrly Ferol Warouw
Danau Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, akan dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK) Bidang Pariwisata. Objek wisata Danau Tondano memang menjadi salah tujuan
wisatawan, hal ini di karenakan Danau Tondano tidak kalah menarik dengan pontesi
yang ada di danau terbesar Indonesia yakni Danau Toba. Pemadangan Danau Tondano
yang teduh dan menyejukan di hiasi dengan pemadangan gunung dan perahu para
nelayan yang sedang menangkap ikan. Danau ini juga merupakan penghasil ikan air
tawar seperti ikan mujair, gabus, payangka wiko (udang kecil), arwana, sepat, tawes,
lobster hitam dan ikan air tawar lainnya. Namun pada kenyataanya potensi yang ada di
Danau Tondano belum dimanfaatkan dengan baik seperti kurang fasilitas umum
sebagai sarana pendukung tempat pariwisata sehingga tidak ada daya tarik pengunjung
untuk mengunjungi Danau Tondano. Yang malah sebaliknya terdapat berbagai masalah
yang timbul mengakibatkan kerusakan ekosistem, salah satu contohnya adalah
tumbuhnya eceng gondok di sekitar Danau Tondano.
Gambar 1. kondisi Danau Tondano yang di tumbuhi eceng gondok
(sumber: hhtps:///google)
Dipingir bibir Danau Tondano juga terdapat berbagai jenis rumah makan kuliner
Khas Minahasa seperti ikan bakar, ikan kuah asam, woku ikan mas, cakalang fufu, nike-
nike goreng, payangka, mujair bakar woka, cumi woku, sate kolombi, dabu-dabu, rica
rodo dan lainnya. Yang menjadi unik dari masakan minahasa adalah sensasi rasa yang
pedas pada setiap makanannya. Orang minahasa bilang ‘’nimboleh makan kalo nda ada
rica’’ artinya, tidak bisa makan tanpa rica atau cabai. Rasa pedas ini seolah-olah sudah
menjadi hal wajib di sulawesi utara bahkan menyantap pisang goreng atau singkong
rebus harus pakai rica-rica. Setiap orang yang makan di rumah makan pingiran bibir
Danau Tondano akan merasa ketagihan mulai dari udara yang dingin membuat seorang
menjadi mudah lapar, pemadangan yang indah, dan masakan Khas Minahasa. Namun
beberapa aspek menyebabkan tempat wisata kuliner di pingir bibir Danau Tondano ini
sedikit peminat karena kurang daya tarik pengunjung mulai dari kurang tempat
reakreasi, tempat parkir, infrastruktur dan fasilitas pendukung lainnya.
Beradasarkan dari data yang ada pada BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupten
Minahasa. menunjukan bahwa untuk beberapa tahun terakhir menunjukan pada setiap
tahunnya terjadi peningkatan atau invlasi jumlah wisatwan yang datang ke kabupaten
minahasa, mulai dari tahun 2011 dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara
berjumlah 5.020 orang dan data terakhir tahun 2018 sebanyak 85. 100 orang, serta
11
Jurnal Teknik Indonesia
E-ISSN: 2963-2293 | P-ISSN: 2964-8092
wisatawan nusantara tahun 2011 berjumlah 355. 100 orang dan mengalami peningkatan
hingga pada tahun 2018 tercatat 1.101.000 orang.
Beradarkan tabel di bawah dapat di lihat kunjungan 2011 sampai 2018
mengalami peningkatan wisatawan, hal ini menujukan bahwa kabupaten minahasa
memiliki potensi wisata yang menarik untuk di kunjungi oleh wisatawan nusatanra
maupun mancanegara.
Tabel 1. Pergerakan Kunjugan Wisatawan Nuasantara dan Mancanegara di
Kabupaten Minahasa 2011 s.d 2018
JUMLAH WISATAWAN NUSANTARA DAN MANCANEGARA DI
KABUPATEN MINAHASA, 2011-2018
Tahun
Wisatawan Mancanegara
Wisatawan Nusantara
2011
5,020
360,120
2012
5,597
396,207
2013
6,299.00
455,501.00
2014
7,461
483,242
2015
18,182
672,338
2016
32,125
840,125
2017
74,758
1,075,758
2018
85,100
1,186,100
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisasta Kabupaten Minahasa
Namun dengan jumlah kunjungan wisatawan sebanyak itu, sangat di sayangkan
sumber cagar alam Danau Tondano tidak dimanfaatkan dengan baik padahal memiliki
pontensi sebagai tujuan wisatawan yang menarik untuk di kunjungi dengan adanya
fasilitas pendukung untuk kegiatan pariwisatawan. Serta meningkatkan lagi kuliner
Khas Minhasa yang sudah ada di pingir bibir Danau Tondano sebagai daya tarik
pengunjung dengan menyediakan fasilitas yang memadai, tempat reakreasi yang
menarik, dan fasilitas pendukung pariwisatawan lainnya.
Arsitektur Neo-Vernakular adalah salah satu paham aliran yang berkembang
pada era post modern, yaitu aliran arsitek yang muncul pada pertengah tahun 1960-an.
Arsitektur Neo-Vernakular muncul karena terlalu banyak kritikan pada arsitektur
modern, penerapan konsep Neo-Vernakular merupakan suatu penerapan elemen
arsitektur yang telah ada, baik fisik (bentuk dan konstruksi) maupun non fisik (konsep,
filosofi, dan tata ruang) dengan tujuan melestarikan unsur-unsur lokal yang telah ada
dan tumbuh dari pengalaman oleh sebuah tradisi. Kemudian sedikit atau banyaknya
mengalami pembaruan menuju suatu karya yang lebih modern atau maju, akan tetapi
12
Perancangan Pusat Kuliner Danau Tondano di Minahasa
Muhammad Gali Azari, M.Y. Noorwahyu Budhyowati, Ferrly Ferol Warouw
tidak mengesampingkan nilai-nilai tradisi setempat. Pembaharuan ini dapat dilakukan
dengan upaya memperoleh tentang keadaan tertentu dengan cara yang tepat.
Bedasarkan latar belakang diatas dapat disimpulkan bahwa Danau Tondano
memiliki pontensi tujuan wisatawan tapi belum di manfaatkan dengan baik serta
kuliner pingiran Danau Tondano harus memiliki fasilitas yang memadai, tempat
reakreasi, dan fasilitas pendukung lainnya, yang menarik perhatian dan juga minat para
wisatawan datang berkunjung. serta memanfaatkan pontensi yang Ada di Danau
Tondano. Dengan demikian judul tugas akhir ini adalah Perancangan ‘ ’Pusat Kuliner
Danau Tondano Di Minahasa dengan pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular’’ menjadi pilihan
untuk mendukung judul ini, alasan tema ini di pilih karena mengubungankan dengan
lokasi yang ada dengan fungsi bangunan yang akan di rancang karena objek dan lokasi
merupakan dua hal yang berkaitan.
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diindentifikasi beberapa masalah yang
dihadapi yaitu sebagai berikut: Adanya sumber daya alam yg melimpah di Danau
Tondano tetapi belum dimanfaatkan dengan maksimal. Beragam hasil khas perairan
Danau Tondano yang berpotensi sebagai daya tarik wisata kuliner yang belum
dimanfaatkan dengan maksimal. Fasilitas pendukung wisata kuliner yang masih belum
memadai mengurangi daya tarik pengunjung.
Metode Penelitian
Lokasi perancang terletak di JL. Langowan-Tondano, Masarang, Kec.Tondano
barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Lokasi site berdekatan dengan
Danau Tondano serta bagian Danau akan di optimalkan sebaik mungkin hingga
menarik untuk di kunjungi.
SITE
Gambar 2 Lokasi Perancang Jl. Langowan-Tondano, Masarang,
Kec.Tondano barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia
(sumber: Glandmeasure)
Teknik Pengumpulan Data
Dalam teknik pengumpulan data, terdiri dari beberapa tahapan agar dapat
memperoleh solusi maupun jawaban dari permasalahan yang ada. Data yang
digunakan terbagi dalam data primer dan data sekunder, Parameter Desain, Analisa dan
Konsep, dan Konsep Desain
13
Jurnal Teknik Indonesia
E-ISSN: 2963-2293 | P-ISSN: 2964-8092
1. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung terkait
data dan fakta yang diperlukan. Data tersebut adalah survey lapangan pada lokasi
site, serta melakukan wawancara kepada beberapa masyarakat yang ada disekitar
lokasi site di JL. Langowan-Tondano, Masarang, Kec.Tondano barat, Kabupaten
Minahasa, Sulawesi Utara
2. Data Skunder
Data sekunder didapatkan tanpa pengamatan secara langsung, melainkan dari
beberapa sumber tertulis berupa buku, jurnal, artikel ilmiah, atau internet. Data
sekunder didapatkan melalui tinjauan literatur dan studi komparasi.
3. Parameter Desain
Parameter Desain didapatkan melalui analisis tinjauan literatur dan objek
komparasi yang telah dilakukan pada bab sebelumnya. literatur yang dianggap
relavan dikaji secara kualitatif dengan mengumpulkan beberapa unsur/elemen
yang diperlukan untuk menunjang dalam perancangan Pusat Kuliner Danau
Tondano di Minahas dengan pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular . Hasil dari kajian
beberapa elemen tersebut kemudian dianalisa dan dijadikan sebagai parameter
desain. parameter desain diperlukan untuk membatasi hasil analisis berupa konsep
agar tidak melenceng dari teori yang sudah dibahas.
Hasil dan Pembahasan
Konsep Dasar
Konsep dasar merupakan gagasan awal dari sebuah perancangan yang tetap
mengacu pada Tema perancangan dan analisa-analisa yang telah di lakukan. Konsep
dasar yang di gunakan dalam perancangan ini adalah budaya-budaya minahasa dan
keseharian masyrakat minahasa dalam mencari nafkah sebagai nelayan di Danau
Tondano (Rasyidah, 2018). Adapun konsep dasar yang di pakai dalam proses penyusun
ini yaitu sebagai berikut:
Bangunan Minahasa
Gambar 3. Rumah Tradisional Sulawesi Utara
Sumber: (hhtps:google)
Rumah adat Sulawesi Utara disebut dengan rumah Walewangko atau rumah
pewaris (Muhammad et al., 2021). Rumah walewangko merupakan rumah tradisional
suku minahasa yang mendiami Sulawesi Utara. Rumah walewangko atau rumah
pewaris di golongkan sebagai rumah panggung.
Yang unik dari rumah walewangko atau rumah pewaris terletak pada bagain
depan bangunan (Muhammad et al., 2021). Dimana susunan tangga berjumlah dua dan
terletak di bagian kiri dan bagian kanan rumah. Konon kabarnya dua buah tangga
tersebut berkaitan erat dengan kepercayaan suku minahasa dalam mengusir roh jahat.
14
Perancangan Pusat Kuliner Danau Tondano di Minahasa
Muhammad Gali Azari, M.Y. Noorwahyu Budhyowati, Ferrly Ferol Warouw
Apabila roah jahat naik melalui tangga satu, maka akan turun lagi melalui tangga
lainnya.
Rumah walewangko, selain berfungsi sebagai ikon budaya masyarakat suku
Minhasa, rumah adat tersebut pada masa lalu juga di gunakan sebagai rumah tinggal
(Muhammad et al., 2021). Ciri Khas dari rumah adat Minahasa terletak pada desainnya
yang simetris dari tampak depan, adanya dua tangga sebagai pintu masuk yang arahnya
saling berlawanan, dan adanya pagar berukir yang mengelilingi ruang serambi depan.
Suku Minahasa
Gambar 4. Tameng Minahasa
Sumber: (hhtps:google)
Tameng merupakan salah satu buadaya yang sangat penting yang di gunakan
untuk melindungi diri saat melawan musuh (Damela, 2021). Orang Minahasa sering
menggunakan dalam Tarian kabasaran dalam melindungi dirinya (Nismawati et al.,
2021). Dulu tameng di gunakan untuk berperang melawan musuh. Fungsinya ialah
untuk sistem pertahan jika musuh menyerang (Indrawan, 2018).
Tarian kabasaran merupakan simbol kebaranian Suku Minahasa (Rahman,
2022). Tarian ini awalanya merupakan tarian perang. Tarian kabasaran hanya
dilakukan oleh Waranei yaitu penjaga keamanan desa di Minahasa sekaligus pajurit
perang (Rahman, 2022). Dalam kesahariannya mereka di kenal sebagai masyrakat biasa
namun ketika daerah minahasa terancam oleh serang musuh, penari kabasaran pajurit
perang. Berdasarkan adat Minahasa, tidak semua lelaki Minahasa dapat menajdi penari
Kabasaran. Yang menjadi penari biasanya keturunan dari sesepuh penari kabasaran.
Karena sifatnya yang turun menurun itulah setiap penari kabasaran memilik senjata
warisan. Senjata warisan ini harus dibawa oleh penari ketika pertunjukan tari
kabasaran dimulai.
Lobster
Gambar 5. Lobster
Sumber: (hhtps:google)
Lobster air tawar adalah crustacea yang menyerupai lobster dan hidup di air
tawar yang tidak dapat membeku sampai ke dasar (Sukmajaya & Suharjo, 2003). Ikan
ini dapat hidup di berbagai tempat dimana ada air yang mengalir dan memiliki tempat
15
Jurnal Teknik Indonesia
E-ISSN: 2963-2293 | P-ISSN: 2964-8092
untuk berlindung. Lobster air tawar merupakan salah satu sumber daya alam Danau
Tondano (Jamlean et al., n.d.). Pengambilan konsep dasar bentuk lopster ini di karena
lopster merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang langka di danau tondano dan
banyak di sukai oleh kalangan masyrakat lokal maupun mancangera salah satunya
negara singapura. Bentuk lobster di sesuaikan lagi dari latar belakang yang
menafaatkan sumber daya alam Danau Tondano.
Konsep Site
Dalam penataan Site bentuk yang di gunakan adalah konsep bentuk yang
diadaptasi dari lobster. Lobster adalah salah satu hasil kekayaan dari Danau Tondano.
Kebudayaan masyarkat pingir Danau Tondano adalah sebagai nelayan untuk mencari
penghasilan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebiasaan sebagai nelayaan
sudah menjadi turun menurut yang di lakukan masyarakat pingir danau tondano tetapi
tidak semua masyrakat di Danau Tondano memiliki profesi sebagai nelayan.
Di danau Tondano banyak sekali terdapat pontesi kekayaan alam seperti
pemadangan yang indah yang di kelilingi oleh pergunungan dan datar tinggi serta salah
satu penghasil ikan air tawar seperti ikan gabus, ikan payangka, nike, mujair dan
lopster. lopster Di Danau Tondano salah satu jenis kekayaan alam Danau Tondano yang
memiliki rasa dan ciri khas sendiri dengan lopster lainnya. Lopter Danau Tondano
sangat di minati oleh pasar singapura karena memiliki ciri khas rasa dan lebih lezat.
Seperti yang di jelaskan di latar belakang bahwa perancangan ini memanfaatkan
pontesi yang ada di Danau Tondano dengan pendekatan Arsitektur Neo-Vernakluar.
Sehingga pengambilan bentuk mengambil bentuk lopster tetapi tetap menerapakan
budaya minahasa.
Gambar 6. Tranformasi Site
Sumber (Analisa Pribadi)
Konsep Bangunan
Bangunan Utama
Pada bangunan utama akan menekatkan prinsip Rumah Tradisional Adat
Minahasa yang kemudian disesuaikan dengan konsep Arsitektur Neo-Vernakluar.
Rumah Tradisional Adat Minahasa atau di kenal dengan Rumah Walewangko atau
rumah pewaris yang di golongkan sebagai rumah panggung. Yang menjadi ciri khas
dari Rumah Tradisional Adat Minahasa terletak pada bagian depan bangunan. Dimana
susunan tangga berjumlah dua yang terletak pada bagian kiri dan kanan. Dua buah
16
Perancangan Pusat Kuliner Danau Tondano di Minahasa
Muhammad Gali Azari, M.Y. Noorwahyu Budhyowati, Ferrly Ferol Warouw
tangga ini di Yakini sebagai pengusir roh jahat, jika roh jahat masuk dari tangga kiri
maka akan keluar dari tangga kanan.
Adapun ciri Khas Rumah Tradisional Adat Minahasa (rumah walewangko) yaitu
sebagai berikut:
1. Rumah Pangung dan 2 lantai
2. Ada dua tangga yang berlawanan dari arah kiri dan arah kanan
3. Ada pagar berukiran yang mengelilingi ruang serambi (teras)
4. Penyusunan kayu dan penggunaan material kayu
Gambar 7. Tranformasi Bangunan Utama
Sumber (Analisa Pribadi)
Pada bangunan utama seperti pada gambar 7. (Konsep Bangunan Utama
Peracancangan Pusat Kuliner Danau Tondano Di Minahsa) diatas. Mengambalikan unsur-
unsru budaya Rumah Tradisional Adat Minahasa Yaitu bagian atap bangunan,
penyusunan kayu, pagar yang mengelilingi ruang serambi (teras), penggunaan tangga
bagian kiri dan kanan). Sedangkan pada bagian belakang bangunan menggunakan
prinsip penyusunan kayu dan material pada bangunan Rumah Tradisional Adat
Minahasa. Yang kemudian akan di sesuaikan dengan jumlah pengguna pada bangunan
dan Analisa site pada lokasi percangan.
Bangunan Suvernir
Gambar 9. Tranformasi Bangunan Suvernir
Sumber: (Analisa Pribadi)
17
Jurnal Teknik Indonesia
E-ISSN: 2963-2293 | P-ISSN: 2964-8092
Gambar 9. ( Konsep Bangunan Suvernir Pusat Kuliner Danau Tondnao Di Minahsa )
Diatas Mengambalikan unsur-unsru budaya Rumah Tradisional Adat Minahasa Yaitu
bagian atap bangunan, pagar yang mengelilingi ruang serambi (teras), penyusuanan
material (material kayu), dan tangga Rumah Tradisional Adat Minahasa. Dan di
sesuaikan dengan konsep perancangan Arsitektur Neo-Vernakular dan lokasi di
perancangan.
Bangun Outdoor Wedding
Gambar 10. Tranformasi Bangunan Outdoor Wedding
Sumber: (Analisa Pribadi)
Gambar 10. ( Konsep Bangunan Indoor Wedding Pusat Kuliner Danau Tondano Di
Minahsa ) Diatas Mengambalikan unsur-unsru budaya Minahasa yaitu tameng. Dan di
sesuaikan dengan konsep perancangan Arsitektur Neo-Vernakular, fungsi bangunan
dan lokasi di perancangan.
Bangunan Penginapan
Gambar 11. Tranformasi Bangunan Pernikahan
Sumber: (Analisa Pribadi)
Gambar 11. (Konsep Bangunan Indoor Wedding Pusat Kuliner Danau Tondano Di
Minahsa ) Diatas Mengambalikan unsur-unsru budaya Minahasa yaitu tameng. Dan di
sesuaikan dengan konsep perancangan Arsitektur Neo-Vernakular, fungsi bangunan
dan lokasi di perancangan.
Penerapan Tematik Dalam Arsitektur Neo-Vernakluar
Penggunaan Atap Bubungan
18
Perancangan Pusat Kuliner Danau Tondano di Minahasa
Muhammad Gali Azari, M.Y. Noorwahyu Budhyowati, Ferrly Ferol Warouw
Gambar 12. Penerapan Atap Bubungan Bangunan Utama Pusat Kuliner Danau
Tondano Di Minahasa
Sumber: (Pribadi)
Penggunaan atap bubungan pada bangunan utama diambil dari prinsip atap
Rumah Tradisional Adat Minahasa berfungsi sebagai pelindung dari cuaca baik panas
dan hujan.
Gambar 13. Implementasi Penerapan Atap Bubungan Bangunan Utama Pusat
Kuliner Danau Tondano Di Minahasa
Sumber: (Pribadi)
Pada Gambar 13. ( Implementasi Penerapan Atap Bubungan Bangunan Utama
Perancangan Pusat Kuliner Danau Tondano Di Minahasa ) diatas. Merupakan implementasi
penerapan atap minhasa pada bangunan.
Penggunaan Material Lokal
Material yang di gunakan dalam Perancangan Pusat Kuliner Danau Tondano Di
Minahasa yaitu menggunakan material kayu, baja dan kaca yang di sesuaikan dengan
fungsi masing bangunan dan disesuaikan dengan konsep Arsitektur Neo-Vernakluar.
Mengambalikan Bentuk-Bentuk Tradisional.
Bentuk bangunan di ambil dari bentuk dasar yaitu Rumah Tradisional Adat
Minahasa yaitu penggunaan atap minahasa, pagar yang mengelilingi serambi depan
(teras), penyususan kayu (dinding), dan tangga yang saling berhadapat. Tameng
Minhasa dan Lopster salah satu ikan air tawar yang terdapat di Danau Tondano.
Warna Yang Kontras
Warna yang di gunakan dalam Perancangan Pusat Kuliner Danau Tondano Di
Minahasa yaitu menggunakan warna alami (kayu) dan warna merah yang
melambangkan warna minahasa. Warna merah sering di gunakan dalam pakian tarian
kabasaran Minahasa. Warna yang menonjol adalah warna merah yang di gabungkan
dengan warna hitam.
Konsep Struktur
Struktur Bawah
Untuk struktur bawah pada bangunan menggunakan pondasi borepile begitu
juga dengan struktur pondasi pada kantilever. Jenis pondasi bored pile sering
19
Jurnal Teknik Indonesia
E-ISSN: 2963-2293 | P-ISSN: 2964-8092
digunakan untuk pondasi bangunan 2 lantai sampai 4 lantai, dalam 3 tahun terakhir
karena pondasi ini bertumpu ditanah dalam sehingga dianggap mampu menahan beban
bangunan yang berdiri diatas tanah lunak, serta dari segi pembuatannya yang bias
dibilang praktis dan efisien dari pada pondasi dalam lainnya. Kelebihan pondasi bored
pile adalah:
1. Alat sederhana dan praktis sehingga dapat mengerjakan ditempat / lokasi padat
perumahan bahkan di bekas bangunan yang belum dibongkar.
2. Cara pembuatan pondasi strauss pile tidak membutuhkan waktu yang lama,
kapasitas 1set alat dapat mengerjakan kurang lebih 25 meter atau 4 s/d 5 titik
perhari bila kedalaman 6 meter.
3. Pondasi bertumpu di tanah dalam sehingga resiko penurunan pondasi yang
mengakibatkan dinding retak dapat diminimalisir.
Gambar 14. Struktur Brode Pile
Sumber: (hhtps:google)
Struktur Tengah
Struktur Tengah bangunan adalah kombinasi struktur beton bertukang dan
balok kontruksi. Struktur dan balok konstruksi yang di gunakan pada bangunan adalah
beton. Struktur utama rangka yang terdiri dari komposisi elemen linear (kolom atau
balok), elemen bidang (plat lantai) yang membentuk kerangka yang kaku. Struktur
penutup dinding menggunakan kayu, semen dan kaca.
Struktur Atas
Struktur atap pada bangunan yang dipakai adalah struktur rangka kayu.
Sedangkan bentuk atap menyesuaikan konsep bangunan yaitu Arsitektur Neo-
Vernakular yang menggunakan atap bubungan.
Bangunan Utama
Gambar 15. Struktur Bangunan Utama
Sumber: (Pribadi)
20
Perancangan Pusat Kuliner Danau Tondano di Minahasa
Muhammad Gali Azari, M.Y. Noorwahyu Budhyowati, Ferrly Ferol Warouw
Struktur atas menggunakan struktur beton dan struktur kuda-kuda kayu.
Struktur tengah menggunakan struktur beton (kaku) dan struktur bawah menggunakan
pondasi brode pile.
Bangunan Suvernir
Gambar 16. Struktur Bangunan Suvernir
Sumber: (Pribadi)
Struktur atas menggunakan struktur kuda-kuda kayu. Struktur tengah
menggunakan struktur beton (kaku) dan struktur bawah menggunakan pondasi brode
pile.
Bangunan Indoor Wedding
Gambar 17. Struktur Bangunan Indoor Wedding
Sumber: (Pribadi)
Struktur atas menggunakan struktur Atas menggunakan kuda kuda kayu,
Struktur tengah menggunakan struktur beton (kaku) dan struktur bawah menggunakan
pondasi brode pile.
Bangunan Penginapan
Gambar 18. Struktur Bangunan Penginapan
Sumber: (Pribadi)
Struktur atas menggunakan struktur kuda-kuda kayu. Struktur tengah
menggunakan struktur beton (kaku), Tali baja (sebagai pengikat) struktur bawah
menggunakan pondasi brode pile.
Hasil Desain
21
Jurnal Teknik Indonesia
E-ISSN: 2963-2293 | P-ISSN: 2964-8092
Gambar 19. perspektif kawasan 1
Sumber: (pribadi)
Gambar 20. Perspektif bangunan Utama 1
Sumber: (pribadi)
Gambar 21. Perspektif bangunan uatama 2
Sumber: (pribadi)
Gambar 22. Perspektif bangunan utama
Sumber: (pribadi)
Gambar 23. Perspektif Suvernir
Sumber: (pribadi)
22
Perancangan Pusat Kuliner Danau Tondano di Minahasa
Muhammad Gali Azari, M.Y. Noorwahyu Budhyowati, Ferrly Ferol Warouw
Gambar 24. Perspektif bangunan Outdoor Wedding
Sumber: (pribadi)
Gambar 25. Perspektif bangunan Penginapan
Sumber: (pribadi)
Kesimpulan
Hasil Rancangan Pusat Kuliner Danau Tondano dapat menyediakan fasilitas-
fasilitas yang mampu mewadahi pontensi yang ada. Hasil Rancangan Pusat Kuliner
Danau Tondano yang Khas dan menarik dengan penerapan dari Arsitektur Neo-
Vernakular.
Daftar Pustaka
Damela, A. (2021). Kajian Sosiologis Ritual Tari Poang Suku Sakai Di Kecamatan Minas
Kabupaten Siak Provinsi Riau . Universitas Islam Riau.
Indrawan, J. (2018). Perubahan paradigma pertahanan Indonesia dari pertahanan
teritorial menjadi pertahanan maritim: sebuah usulan. Jurnal Pertahanan & Bela
Negara , 5 (2), 93–114.
Jamlean, Y. G., Bataragoa, N. E., & Tombokan, J. L. (n.d.). Penangkapan Dan Hubungan
Panjang-Berat Lobster Air Tawar Cherax Quadricarinatus Von Martens, 1868 Di Danau
Tondano Kecamatan Kakas, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.(Catch And Length-
Weight Relationship Of Freshwater Lobster, Cherax Quadricarinatus Von .
Moningka, O., & Suprayitno, H. (2019). Identifikasi Awal Tujuan Wisata di Provinsi
Sulawesi Utara bagi Kajian Manajemen Pariwisata. Jurnal Manajemen Aset
Infrastruktur & Fasilitas , 3 .
Muhammad, M., Maradjado, C. A., & Nurdin, N. (2021). Perancangan Aplikasi
Pengenalan Rumah Adat Berbasis Android. Jurnal Elektronik Sistem Informasi Dan
Komputer , 4 (2), 23–36.
Nismawati, N., Oruh, S., & Agustang, A. (2021). Eksistensi Tari Kabasaran Pada
Masyarakat Minahasa. Jurnal Ilmiah Mandala Education , 7 (4).
Nugraha, I. W. A. R. (2023). Pengaturan Perlindungan Hukum Terhadap Wisatawan dan
Pemberlakuan Sanksi Pidana Terhadap Perbuatan Melawan Hukum Menurut
23
Jurnal Teknik Indonesia
E-ISSN: 2963-2293 | P-ISSN: 2964-8092
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Al Qalam: Jurnal
Ilmiah Keagamaan Dan Kemasyarakatan , 17 (2), 1231–1246.
PUTRI, L. T., & IRFANDI, N. (2019). Analisis Pengaruh Daya Tarik Wisata Kuliner
Malam (WKM) terhadap Kunjungan Wisatawan di Kota Pekanbaru. IKRAITH-
EKONOMIKA , 2 (2), 132–140.
Rahman, E. Y. (2022). (2022). Tarian Adat Kabasaran di Minahasa (Analisis Nilai Budaya
dan Peluangnya sebagai Sumber Pendidikan Karakter). JISIP (Jurnal Ilmu Sosial Dan
Pendidikan) , 6 (1).
Rasyidah, K. (2018). hmadiono, MEI, 2018: Strategi Pengembangan Potensi Wisata Religi di
Kabupaten Sumenep (Studi Kasus Wisata Religi Asta Tinggi Sumenep). Universitas
Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
Ridha, C. U. (2020). Perancangan Pusat Wisata Kuliner Khas Aceh di Banda Aceh . UIN AR-
RANIRY.
Sudrajat, A., & Bintoro, A. (2016). Pengukuran konsentrasi ortofosfat di Danau Tondano.
Buletin Teknik Litkayasa Sumber Daya Dan Penangkapan , 14 (2), 127–133.
Sukmajaya, I. Y., & Suharjo, I. (2003). Lobster air tawar; komoditas perikanan prospektif .
AgroMedia.
Tanod, L. M., Areros, W., & Londa, V. (2020). Implementasi Kebijakan Pengelolaan
Objek Pariwisata Alam Pantai Kombi di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi
Utara. Jurnal Administrasi Publik , 6 (98).
Triatmo, G. J., Sondakh, J. A. R., & Tarore, R. D. C. (2021). Pusat Wisata Air Di Tondano,
Waterfront Architecture . Sam Ratulangi University.
24